Ayo kenali dan waspadai kanker kolorektal!

Kanker kolorectal (kolon dan rektal) merupakan salah satu jenis kanker yang angka kejadiannya cukup tinggi di seluruh dunia. Di Amerika serikat, kanker jenis ini merupaan kanker penyebab kematian terbesar kedua. Data yang diperoleh dari situs Center for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutan bahwa setiap tahunnya sekitar 140 ribu orang di Amerika serikat terdiagnosa dan dan lebih dari 50 ribu orang meninggal karena penyakit ini. Gambaran serupa juga ditemukan di banyak negara maju lainnya seperti Kanada dan Inggris.

Di Indonesia, angka kejadian kanker kolorektal belum sepenuhnya terekam dengan baik. Namun, pada tahun 2006, Departemen Kesehatan RI mengungkapkan bahwa kanker jenis ini merupakan kanker terbanyak ketiga di Indonesia. Data dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) pada tahun 2008 menunjukkan bahwa angka kejadian di Indonesia adalah 19,1 (laki-laki) dan 15,6 (perempuan) untuk tiap 100 ribu penduduk.

Meskipun jumlah kasus kanker jenis ini cukup banyak dan diperkirakan akan terus meningkat di masa yang akan datang, pengetahuan masayarakat umum tentang kanker jenis ini masih cukup minim. Jika setiap bulan Oktober kita mengenal adanya aksi pita merah jambu (pink ribbon) yang ditujukan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker payudara, maka sejak tahun 2000 Maret merupakan waktu yang dipilih sebagai bulan kesadaran kanker kolorektal yang ditandai dengan logo pita berbentuk bintang berwarna biru (The Blue Star). Bentuk bintang melambangkan penghormatan kepada mereka yang telah meninggal akibat kanker ini dan harapan bagi mereka yang saat ini sedang berjuang melawan keganasan kanker ini. The Blue Star diperkenalkan di tahun 2004 oleh National Colorectal Cancer Round Table (NCCRT) dan telah diadopsi oleh berbagai komunitas kanker di seluruh belahan dunia.

Kanker kolorektal biasanya berkembang secara perlahan, selama periode 10 sampai 20 tahun. Pertumbuhan kanker kolorektal biasanya dimulai dengan tumbuhnya polip yang berkembang pada lapisan dalam usus besar atau rektum. Sebagian besar jenis polip disebut adenomatosa polip atau adenoma. Adenoma berasal dari sel kelenjar yang memproduksi lendir untuk melumasi kolorektum. Kebanyakan kanker kolorektal (sekitar 96%) adalah adenokarsinoma. Pertumbuhan kanker pada lapisan dalam usus besar dapat menyebar ke dinding usus besar atau rektum. Kanker yang telah tumbuh pada dinding usus besar atau rektum dapat pula menembus darah atau getah bening. Sel-sel kanker menyebar ke kelenjar getah bening terdekat dan dibawa kedalam pembuluh darah ke hati atau paru-paru kemudian dapat bermetastasis ke panggul, rongga perut dan jaringan lainnya, seperti peritoneum (selaput lapisan perut) dan ovarium

Berbagai tipe kanker mempunyai faktor resiko yang berbeda-beda. Sebagai contoh, paparan sinar matahari yang kuat (ultaviolet) merupakan faktor resiko terjadinya kanker kulit dan merokok merupakan faktor resiko terjadinya kanker paru. Perlu diingat bahwa mempunyai satu bahkan lebih faktor resiko belum tentu menyebabkan kita secara pasti mengidap penyakit tertentu dan sebaliknya seringkali para penderita suatu penyakit tidak mempunyai faktor resiko yang dihubungkan dengan penyakit tersebut. Berdasarkan studi epidemiologi, beberapa hal yang menjadi faktor resiko kanker kolorektal adalah :

  • Umur diatas 50 tahun
  • Adanya riwayat polip usus dan penyakit peradangan di usus (IBD = Inflammatory Bowel Disease)
  • Adanya riwayat keluarga yang menderita polip usus atau bahkan kanker kolorektal
  • Konsumsi daging merah (sapi, kambing, babi, hati), daging olahan (sosis dan kornet) dan daging yang dimasak pada temperatur tinggi (digoreng, panggang, bakar)
  • Kurang berolahraga
  • Obesitas
  • Konsumsi rokok dan alkohol yang berlebihan
  • Sindrom genetik bawaan yang diturunkan seperti Familial adenomatous polyposis (FAP) dan Hereditary non-polyposis colon cancer (HNPCC)

Mesipun sebagian besar kasus kanker kolorektal dialami oleh orang berusia diatas 50 tahun, namun tidak berarti orang berusia muda tidak dapat mengidap mengidap penyakit ini. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien pengidap kanker kolorektal di Indonesia cenderung berusia lebih muda daripada pasien di negara-negara maju. Bahkan, Departemen Kesehatan RI pada tahun 1995 melaporkan bahwa hampir 30% pasien penderita kanker kolorektal di Indonesia berusia di bawah 40 tahun. Di negara maju, pasien kanker kolorektal di bawah 50 tahun hanya tercatat berkisar 2-8 % saja.

Lebih jauh, banyak peneliti yang menyimpulkan bahwa kanker kolorektal sebenarnya dapat dicegah terutama dengan mencegah perkembangan polip di saluran cerna sebelum berubah menjadi kanker. Salah satu cara yang efektif adalah dengan melakukan deteksi dini. Beberapa jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk deteksi polip maupun kanker kolorektal adalah :

  • Pemeriksaan feses, untuk melihat ada tidaknya bercak darah atau bahkan perubahan DNA
  • Sigmoidoskopi dan atau kolonoskopi, pemeriksaan kolon maupun rektum dengan menggunakan pipa lentur berkamera
  • Pemerikasaan dengan barium enema (semacam X-Ray untuk memotret kolon dan rektum)
  • CT-Scan

Selain melakukan deteksi dini, kewaspadaan terhadap kanker kolorektal juga dapat ditingkatkan dengan mengetahui tanda dan gejala umum dari kanker ini, diantaranya :

  • Perubahan kebiasaan usus yang berlangsung cukup lama seperti diare, konstipasi, dan perubahan bentuk feses menjadi berbentuk pipih seperti pita
  • Perasaan tidak lega dan belum tuntas meskipun setelag buang air besar
  • Pendarahan di rektum dan adanya darah di feses
  • Nyeri atau sakit di bagian perut
  • Perasaan lesu dan lemah
  • Penurunan berat badan
  • Anemia

Meskipun gejala dan tanda diatas merupakan gejala dan tanda yang umumnya juga diamati pada penyakit lain seperti ambien (hemorroid), infeksi saluran cerna dan penyakit peradangan usus seperti IBD (Inflammatory Bowel Disease), tindakan yang paling tepat jika Anda mengalami gejala dan tanda tersebut adalah segera menemui dokter untuk dapat dilakukan pemeriksaan sesegara mungkin dan menemukan penyebabnya.

Advertisements

Edisi Pindah Lapak: Cerita Pasar

Saya pengen banget bisa rajin nulis, tapi koq ya jarang berhasil, apakah ini karena Saya memang tidak berbakat ya? Tapi Saya percaya menulis itu adalah keterampilan yang bisa diasah jadi semoga Saya makin rajin mengisi blog ini. Ini edisi pertama Saya di lapak WordPress karena lapak sebelumnya di Tumbrl terasa agak rumit untuk Saya yang rada gaptek ini.

Hari minggu kemarin, Saya (untuk pertama kalinya pasca pengobatan) kembali menginjakkan kaki ke pasar Wage, pasar tradisional terbesar di Purwokerto. Dari dulu, sejak berkeluarga, Saya memang rutin berbelanja ke pasar tersebut setiap hari minggu untuk membeli keperluan dapur selama seminggu. Namun, sejak diagnosa kanker diawal tahun ini disertai terapi panjang sekitar 8 bulan, baru kemarin Saya menginjakkan kaki kembali di pasar tersebut.

Sekilas, tidak tampak perubahan berarti, masih tetap meriah. Para penjual dan barang yang dijual pun masih sama, bahkan tetap menempati posisi yang sama seperti sebelumnya. Yang membuat spesial adalah banyak diantara pedagang yang masih mengenali saya walaupun Saya sudah hampir setahun tidak bertemu mereka. Dulu, interaksi saya dengan para pedagang itu sebenarnya tidaklah terlalu khusus, hanya selayaknya pembeli dan penjual. Saya pun tidak mengenal mereka secara pribadi, tidak mengetahui nama mereka dan saya yakin mereka pun tidak mengetahui nama saya. Saya sungguh sungguh tersentuh ketika hari minggu kemarin mereka menyapa menanyakan kabar Saya. Banyak yang bertanya kenapa Saya tampak lebih kurus dan lama tidak berbelanja ke tempat mereka. Perhatian yang sangat menyentuh hati. Mereka tentunya berinteraksi dengan banyak orang selama ini, namun ternyata mereka mengingat Saya, salah satu pembeli diantara ratusan pengunjung di pasar itu.

Banyak cerita dan pelajaran yang saya ambil setiap kali saya bertandang ke pasar tradisional itu. Umumnya cerita sederhana mengenai kehidupan sehari-hari, namun tentunya penuh makna. Seperti curhat ibu penjual bumbu dapur mengenai harga-harga yang melambung yang menyebabkan dagangannya sepi pembeli, ataupun ketika saya mengamati seorang pengawai di tempat pemotongan ayam yang secara sembunyi sembunyi menyuntikkan air ke dalam ayam yang baru dipotong. Insya Allah cerita cerita itu akan Saya tuliskan di lain kesempatan.

Saya sangat senang bisa kembali menjalani rutinitas kecil ini seperti dulu lagi. Saya yakin suami Saya pun merasakan hal yang sama karena Ia tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahagia sambil sesekali mengecup pipi Saya. Perhatian para pedagang di sana melengkapi rasa syukur tak terhingga yang Saya panjatkan kepada Allah SWT atas karunia yang Ia berikan hari itu. Ternyata….kebahagiaan itu sederhana.

Kanker, satu kata dengan sejuta makna.

Menurut definisi yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidakteraturan perjalanan hormon yang mengakibatkan tumbuhnya daging pd jaringan tubuh yang normal; tumor ganas. Definisi ini tentunya agak terdengar janggal di telinga Saya yang beberapa tahun belakangan berkecimpung dalam riset biomedik terkait kanker. Berdasarkan pemahaman yang Saya ketahui lewat membaca beberapa liiteratur, kanker umumnya didefinisikan sebagai suatu penyakit yang muncul akibat pertumbuhan sel yang abnormal (lebih agresif dan desktuktif). Dan jika dihubungkan dengan definisi menurut KBBI, tidak selalu penyebab pertumbuhan yang tidak normal itu adalah akibat gangguan hormonal, tetapi lebih luas lagi mencakup gangguan pada tingkat molekuler dan genetik, termasuk di dalamnya protein-protein spesifik seperti growth factor. Terlebih lagi KBBI membatasi definisi kanker pada tumbuhnya “daging” di jaringan normal (kog Saya jadi membayangkan sepotong Steak sapi yang siap disantap dengan potato wedges dan gravy ya?). Padahal, ada lho beberapa jenis kanker yang secara patofisiologi tidak disertai dengan tumbuhnya massa/ tumor, seperti yang terjadi pada pasien leukimia (kanker darah).

Anyway….tulisan Saya kali ini tidaklah dimaksudkan untuk membuat critical review mengenai definisi kanker secara ilmiah. Kali ini, Saya ingin mencoba memaknai arti kata “kanker” dari perspektif saya bukan sebagai peneliti tapi sebagai penyitas kanker (cancer survivor). Yups….Saya didiagnosa menderita kanker rektum stadium di awal tahun 2014. Saya pun telah menjalani 3 kali operasi dan 8 kali siklus kemoterapi hingga di penghujung bulan September 2014, hasil CT Scan terakhir menunjukkan status NED (No evidence of Disease)

2013 adalah tahun yang penuh kerja keras dan usaha. Pekerjaan di kantor sebagai dosen terasa sangat bertumpuk ditambah lagi harus berupaya maksimal mengisi aplikasi berbagai beasiswa dengan seabreg kelengkapannya. Di pertengahan tahun tersebut Saya mulai merasakan beberapa gangguan ringan di bagian pencernaan, mulai dari nyeri lambung hingga BAB yang sulit, tidak teratur dan disertai darah. Kesibukan membuat Saya sedikit melupakan keluhan yang ada. Kala itu Saya berpikir nyeri lambung itu muncul karena ketidakteraturan jadwal makan belaka. Obat gangguan lambung seperti antasida dan PPI (lansoprazole) selalu tersedia di tas dan Saya pun tetap aktif ke sana kemari, bahkan mengikuti seminar ke LN. Beberapa waktu berselang, BAB berdarah membuat Suami Saya menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis dalam. Ketika itu, karena keluhannya hanya darah segar di feses, diagnosa nya adalah hemorroid dan terapi dengan suppositoria mebuat gejala ini membaik. Saya pun kembali melaju, kembali tenggelam dalam kesibukan. Perjalanan lain ke LN pun kembali berlanjut, tapi kali ini dengan membawa serta Mas Yuza dan papanya (Ahh….how I miss those beautiful moments now). Di penghujung tahun, ketika Saya sedang sibuk sibuknya mempersiapkan kepindahan kami ke LN dalam rangka melanjutkan S3, suami Saya meminta untuk kembali memeriksakan diri ke dokter spesialis, just to make sure everything fine before we go, begitu deh kira-kira alasannya. Setelah menunda beberapa kali, kunjungan kembali ke dokter spesialis membuat mata, pikiran dan hati saya terperangah. Saya dinilai dokter terlihat kurus, sayu dan pucat (mungkin penampakan inilah yang mendorong suami ngotot mengajak Saya untuk segera kontrol). Saya pun diminta untuk segera melakukan tes darah dan kolonoskopi. Singkat cerita, setelah serangkaian tes di beberapa RS baik dalam maupun luar Purwokerto, diagnosis yang telah merubah hidup Saya itupun ditegakkan pada tanggal 21 Januari 2014, bertepatan dengan ulang tahun pernikahan Kami yang ke-8 dan berselang satu hari setelah ulang tahun Mas Yuza yang ke-7.

And then….the new journey had begun.

Kanker adalah peringatan

Bagi Saya, kanker bagaikan dentuman lonceng super keras yang tidak hanya menghantam fisik, tapi juga pikiran dan nurani Saya. Awalnya, ketika mengetahui bahwa di tubuh Saya bertumbuh sel-sel nakal super bandel yang mungkin saja tidak bisa ditaklukkan oleh ramuan terkini para ilmuwan, banyak emosi yang berkecamuk; sedih, tidak terima, putus asa, dan yang utama tentunya rasa takut. Takut akan terpisah dari orang-orang yang sangat Saya sayangi, takut akan kematian. Namun perlahan, gelembung gelembung depresif itu makin menjauh, seiring dengan berhembusnya dukungan, semangat dan doa dari keluarga, teman, kolega dan bahkan orang-orang lain yang saya temui sepanjang perjalanan sulit ini. Saya mulai memaknai penyakit ini sebagai pengigat dari Allah untuk Saya. Saya yang gudangnya salah diingatkan kembali atas banyak perbuatan dosa yang telah tertumpuk selama 32 tahun keberadaan Saya di dunia fana ini. Saya yang naif diingatkan kembali bahwa ilmu yang Saya punya tidaklah cukup untuk membuat Saya mendapatkan tempat yang indah di sisi-Nya kelak. Saya yang selama ini selalu berusaha merencanakan banyak hal terkait masa depan ternyata tak lebih seperti kuman kecil yang arogan di hadapan Sang Khalik yang Maha Memutuskan. Dan tentunya,masih banyak hal lain yang dengan penuh cinta ingin diingatkan Allah SWT kepada Saya, mahklukNya yang hina, agar Saya tidak gampang tinggi hati dan terlena jauh dari jalanNya. Seorang teman pernah mengatakan kepada Saya bahwa sakit tidak lah mendekatkan ataupun menjauhkan kematian, karena pada hakekatnya,saat itu sudah merupakan ketetapan dari Nya. Hal ini membuat Saya sadar bahwa Allah masih mencintai Saya sehingga menjadikan sakit ini sebagai pengingat agar Saya terus membekali diri untuk kehidupan yang kekal kelak di akhirat.

 Hmmm…it’s sound good, but believe me, it’s easier to say than actually do it.

Ketika kecemasan kadangkala kembali hinggap di pikiran dan rasa, ketika ketidakpastian senantiasa menghantui, kecupan sayang dari orang terkasih selalu mengingatkan Saya akan kuasa Sang Ilahi.

 Kanker adalah Kesabaran

Jarang orang yang mengenal kesehariaan Saya akan mengasosiasikan kata “sabar” dengan nama Saya. Yah…kalo menurut suami, Saya ibarat dinamit yang bersumbu pendek, gampang meledak. Kalo boleh sedikit defensif seh, Saya berkilah bahwa Saya bukannya tidak sabar, tetapi eksperif (hehehe….jadi membayangkan sosok Ko Ahok yang dikenal lewat media sebagai tokoh yang meledak-ledak). Saya dibesarkan di Sumatra yang tentunya secara kultural berbeda dengan Jawa, tempat Saya tinggal selama ini. Karakter orang Sumatra dikenal bersuara lantang dan ceplas ceplos. Mungkin hal inilah yang tersamarkan menjadi ketidaksabaran.

 Kanker merupakan penyakit yang membutuhkan perawatan yang panjang dan sebagian besar tidak mudah dilalui. Biaya yang mahal, akses layanan kesehatan yang tidak sebanding dengan jumlah penderita, efek samping yang luas hingga hasil terapi yang kadang kala tidak sesuai yang diprediksi, membuat Saya belajar untuk bersahabat dengan kata “sabar”. Saya mencoba memaklumi ketika Saya harus melalui berbagai tahapan birokrasi BPJS di rumah sakit yang memakan waktu hampir 6 jam untuk bertemu selama 5 menit dengan dokter onkologis yang menangani Saya. Saya mencoba memaklumi ketika jadwal kemoterapi Saya harus ditunda beberapa kali karena kekosongan obat di rumah sakit. Saya mencoba menyemangati diri bahwa nyeri pasca operasi yang teramat sangat Saya  rasakan ketika itu akan berakhir setelah beberapa waktu, harapan yang  awalnya Saya panjatkan dalam hitungan hari, kemudian perlahan berubah dalam hitungan minggu bahkan bulan. Dan tentunya yang cukup sulit adalah ketika Saya harus bersabar dengan menahan sebuah kesedihan besar untuk dapat kembali mendekap si buah hati yang harus Kami (Saya dan suami) tinggalkan di rumah bersama Uti dan Kakungnya selama saya menjalani terapi.

Menjalani terapi dengan berbagai tindakan rawatan dan berpuluh jenis obat membuat Saya menyadari bahwa obat yang sesungguhnya adalah kesabaran. Sebuah penemuan yang Saya dapat bukan dari puluhan jam yang Saya habiskan di laboratorium dengan seperangkat alat uji yang super canggih seperti yang Saya lakukan dalam penelitian S2 Saya di Australia. Allah memberikan penyakit ini sebagai ujian kepada Saya agar Saya dapat belajar tentang kesabaran. Layaknya sebuah ujian, Saya akan berusaha maksimal agar dapat lulus dan naik kelas sehingga dapat makin dekat denganNya, Sang Maha Mengetahui.

 “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” – [Al-Baqarah:153].

Kanker itu adalah Keikhlasan

Ketika awal mengetahui diagnosa dokter, tanpa sadar kalimat berikut terlontar dari mulut Saya. “Kenapa harus Saya, Dok?” Saya tidak bisa melupakan ekspresi terkejut dokter spesialis dalam yang sangat baik dan telah banyak membantu Saya melewati serba serbi sebagai pasien penderita kanker. Samar-samar Saya mengingat Beliau berusaha menyemangati Saya dan berpesan untuk tidak putus asa dan ikhlas. Bagaimanakah ikhlas itu? Terus terang Saya hingga saat ini masih belajar untuk memahami kata yang terdengar sederhana namun penuh makna tersebut. Namun Saya mencoba memahami bahwa everyhing happens for a reason, sehingga tidak perlu ada yang perlu dipertanyakan, apalagi dipersalahkan. Saya yang masih belajar ini berusaha memaknai kanker yang Saya derita sebagai kehendak Allah. Dengan ini Allah telah mengingatkan kembali bahwa kecintaan saya terhadap keluarga, terutama Mas Yuza seharusnya dilandaskan pada kecintaan Saya hanya kepada Allah. Oleh karena itu, seringkali ketika Saya bersedih karena harus terpisah dari Mas Yuza selama menjalani terapi, Saya belajar untuk menerima bahwa cukuplah Allah yang menjaga orang-orang yang Saya sayangi.

“Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.” – [Al Fatihah: 5].

Kanker adalah Pengharapan

Meskupun telah banyak testimoni yang mengkorelasikan antara positive attitude dengan keberhasilan terapi dan survival rate pasien kanker, namun…staying positive is often the harderst part. Semangat dan motivasi untuk terus bertahan dan berjuang melawan penyakit ini tentunya sulit dijaga agar terus konsisten. Mood yang berubah cepat, emosi yang naik turun, amarah yang meluap, tangis yang tak terbendung, kegamangan yang tak berujung, semuanya tentu pernah mewarnai perjalanan hidup seorang penderita kanker. Namun, tanpa sebuah pengharapan, semua yang terlalui itu rasanya akan terlewati sia-sia. Dibalik cengkraman kejamnya, kanker mengajarkan arti sebuah harapan.  Dengan harapan, putus asa bukanlah pilihan dan semangat adalah keniscayaan. Jangan tanya harapan apa yang Saya punya saat ini, daftarnya akan sangat panjang. Harapan bagi Saya adalah doa, yang senantiasa dapat selalu kita panjatkan kepada Sang Penguasa Hidup. Setelah menderita kanker, Saya merasa ada sedikit perubahan dalam formulasi doa Saya. Jika dulu Saya sering terjebak untuk meminta hal-hal detail dan rinci, doa Saya kepada Sang Ilahi kini lebih general dan sederhana. Ada istilah yang sering dipakai oleh komunitas penyitas kanker di berbagai belahan dunia yaitu “living your live one day at the time” dan prinsip ini pula yang sekarang Saya coba aplikasikan dalam hidup, agar Saya bisa melangkah lebih ringan, bersyukur atas nikmat Allah hari ini dan tetap berusaha optimis lewat doa tanpa terlalu merisaukan hal-hal yang belum pasti di masa depan.

“Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku ijabah doamu.” –[Al-Mukmin: 60]

Kanker adalah Anugerah

Sebenarnya, makna kanker yang satu ini masih agak sulit saya pahami, namun memperhatikan banyak hal yang terjadi pasca diagnosa kanker membuat Saya perlahan bisa memandang banyak hal melalui perspektif ini. Selain sisi jeleknya, sebenarnya kanker yang Saya idap telah menunjukkan beberapa sisi indahnya. Saya menyadari betapa banyak orang yang mencintai dan mengasihi Saya. Dukungan Suami yang sangat hebat yang selalu bersabar dan tanpa mengeluh mendampingi Saya di masa-masa sulit ini pun membuat Saya menyadari betapa Allah telah memberikan pendamping hidup yang teramat baik bagi Saya (Most of time, I do think I dont deserve you, Papa). Tidak hanya itu, Allah juga telah menitipkan seorang anak yang tegar, baik hati, pintar dan penyayang kepada Kami. Sepanjang perjalanan sakit Saya yang berliku ini, Mas Yuza adalah salah satu penyangga Saya. Ketika saya berpikir bahwa Saya harus berusaha kuat demi dia, ternyata Mas Yuza lah yang menguatkan Saya dengan caranya yang sederhana. Ketika tanggannya yang mungil selalu bersemangat memasangkan kaos kaki kepada Saya yang terbaring lemah setiap kali habis menjalani kemoterapi, ketika mengetahui dirinya tetap berprestasi di kelas meskipun lebih dari satu semester belajar tidak didampingi oleh Saya maupun papanya, dan ketika dia berpesan agar Saya jangan menangis ketika harus terbaring berminggu-minggu di rumah sakit. Lewat semua momen itu, Allah sudah menunjukkan betapa besar karunia yang telah Dia berikan kepada Saya, berupa janin yang bertumbuh di rahim Saya sekitar tujuh tahun yang lalu. Selain Yuza dan papanya, tentu saja masih banyak orang-orang lain yang dianugerahkan Allah untuk Saya, diantaranya orangtua dan mertua Saya beserta keluarga besar yang dalam segala perbedaan kultur dan budaya mampu bersatu padu menuntun Saya melewati masa-masa sulit. Selanjutnya ada teman-teman dan kolega Saya yang walaupun sudah lama tak bersua masih sudi mengingat, menjenguk, mendoakan bahkan membantu baik material maupun non material. Mengidap kanker ibarat memakai kaca pembesar untuk melihat begitu banyak pintu nikmat yang dibukakan Allah kepada Saya selama ini. Bahkan ketika hampir 3 minggu terbaring di rumah sakit pun Saya masih bisa bersyukur masih diberi kesehatan yang lebih baik di bandingkan beberapa pasien lain yang kamarnya bersebelahan dengan Saya.

To sum up, Saya seperti dibangunkan oleh Allah SWT dari tidur yang terlalu lelap dan mungkin telah membuat Saya lupa apa atas yang ada di sekitar Saya dan apa yang telah lakukan Saya lakukan selama ini. Saya berharap saya mampu melewati cobaan yang dasyat ini. Perjalanan yang berliku yang Saya lalui semoga memperkaya diri Saya sehingga dapat lebih banyak lagi bermanfaat untuk orang-orang di sekitar Saya, tentunya sambil mempersiapkan bekal untuk bertemu Sang Pencipta. Sudah siapkah Saya? Tentu saja jauh dari siap. Semoga Kita semua bisa saling ingat-mengingatkan.

                                   -Dusun Tritih, Desa Karangjati, Sampang, Cilacap

image

Ketika Yuza Ingin Punya Adik dan Bertanya “Kapan nempelnya, Ma?”

Beberapa waktu yang lalu, Yuza melihat Saya membawa sebungkus pembalut wanita. Dia kemudian bertanya “Mama kenapa pake Pa*mp*ers, emangnya Mama ngompol?”. Saya pun menjelaskan bahwa itu bukanlah diapers seperti yang sering dipakai adik bayi. Belum puas dengan jawaban Saya, Yuza pun bertanya lagi “Kalo ngak ngompol, kenapa Mama pake itu?”. “Karena Mama sedang menstruasi” jawab Saya. Tentunya pertanyaan berikutnya yang terlontar adalah “Menstruasi itu apa, Ma?”.

Aduh….Saya pun terdiam sejenak untuk memikirkan bagaimana menjelaskan konsep menstruasi kepada anak berusia 7 tahun. Saya memang berprinsip untuk lebih baik mengatakan hal sebenarnya jika anak Saya bertanya tentang sesuatu. Tentunya dengan berputar otak merumuskan bahasa yang mudah ia pahami. Dalam konteks pertanyaan soal menstruasi, tentunya Saya harus menghindari jawaban kiasan seperti “tamu bulanan”.

Percakapan pun berlanjut.

Saya (S) : Menstruasi itu artinya mama sedang mengeluarkan darah (mendengar jawaban saya ini Yuza langsung terlihat kwatir, mungkin ia teringat kembali masa masa ketika Saya mengerang kesakitan pasca operasi pengangkatan kanker di rektum). Mama berdarah karena setiap bulannya Mama bertelur (Dan…saya pun sudah menduga pertanyaan Yuza berikutnya)
Yuza (Y) : Bertelur seperti ayam, Ma?
S : Bukan seperti ayam, nama telurnya ovum, bentuknya tidak seperti telur ayam, jauh lebih kecil. Nah…telur itu bisa berkembang jadi adik bayi kalo telurnya nempel di dinding uterus. Uterus itu ada di perut Mama. Adik bayi tidur di uterus sampai 9 bulan kemudian lahir. Kalo telurnya gak nempel maka tidak bisa berkembang jadi adik bayi. Makanya dinding uterusnya akan pelan pelan luntur dan keluar sebagai darah.

Huffff…..ribet juga ternyata ya. Saya akhirnya harus skip bagian pembuahan ketika ovum bertemu sperma sebelum akhirnya berkembang menjadi janin alias adik bayi karena takut Yuza akan bertanya mengenai sperma. Masih bingung menformulasi jawaban yang cocok. Sepertinya butuh bantuan ayahnya neh.

Yang membuat Saya tersenyum adalah celetukan Yuza terhadap penjelasan Saya.

Y : Ya Allah…aku pengen punya adik. Semoga telurnya Mama segera nempel.

Dan…semejak itu, seringkali (biasanya di malam hari menjelang tidur) Yuza bertanya : “Kapan aku punya adik Ma? Udah nempel belum? Kapan nempelnya, Ma?”

Semoga Allah mendengar doa mu ya Nak. Semoga Allah memberi Mama kesehatan dan membukakan jalan sehingga Mama dan Papa bisa memberikanmu seorang adik.

Batas antara Ikhtiar dan Tawakal, antara Usaha dan Pasrah

Terlahir dari keluarga keturunan Tiongkok (peranakan), sejak kecil Saya terdidik untuk tidak takut bekerja keras. Hampir semua anggota keluarga Saya kala itu terjun berwirausaha, bukan menjadi pegawai sehingga tidak ada jaminan gaji bulanan yang akan diterima. Dengan situasi ini, tentunya bekerja semaksimal mungkin adalah suatu keharusan karena secara prinsip, “the harder you work, the more you will get”.

Beranjak dewasa, Saya seringkali diingatkan untuk tidak “ngoyo”. Saya menyadari bahwa Saya seringkali pula dianggap kaku dan keras kepala. Kombinasi karakter yang Saya miliki ini acapkali membuat orang-orang disekitar mengasosiasikan Saya sebagai orang yang ngotot. Beberapa diantara mereka dengan berbaik hati seringkali mengingatkan Saya untuk tidak lupa berpasrah diri.

Insya Allah, sebagai seorang muslim yang masih harus banyak belajar untuk mengikuti tuntunan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, Saya sangat percaya pada konsep ikhtiar dan tawakal. Saya sungguh yakin bahwa tugas kita sebagai manusia adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai ridhaNya. Jika Allah menghendaki sesuatu untuk terjadi maka tidak ada satu hal pun yang mampu menghalangi, begitu juga sebaliknya.

Yang menjadi dilema adalah ketika titik pertemuan antara ikhtiar dan tawakal yang Saya pahami terlihat berbeda dengan yang dipahami oleh orang-orang di sekitar Saya. Batas antara usaha maksimal yang selayaknya dilakukan sebelum berpasrah akan hasilnya itulah yang tentunya berbeda-beda untuk tiap orang. Jangan sampai pasrah itu dijadikan kamuflase dari sikap mudah menyerah.

Beberapa tahun belakangan ini, Saya berikhtiar cukup keras untuk menggapai resolusi mendapatkan beasiswa bergengsi bersekolah di LN dengan memboyong anak dan suami. Banyak hal yang harus Saya lakukan demi mewujudkan resolusi ini (sebagai orang mungkin menerjemahkannya sebagai ke-ngototan ataupun ambisi yang mengebu). Di penghujung tahun lalu, Allhamdullilah Saya berhasil lolos mendapatkan 3 jenis beasiswa yang cukup kompetitif. Bangga dan puas tentunya Saya rasakan ketika itu. Menjelang persiapan keberangkatan di awal tahun ini, Saya didiagnosa mengidap kanker rektum sehingga harus menjalani serangkaian operasi dan terapi yang tentunya tidak mudah untuk dilalui. Kondisi ini tentunya membuat rencana studi yang sangat Saya idamkan menjadi tertunda. Kekhawatiran pun muncul dari orang-orang terkasih di sekitar Saya. Teman, keluarga dan kolega banyak yang khawatir bahwa Saya tidak bisa menerima kenyataan tertundanya rencana studi yang secara “ngotot dan ambisius” telah Saya persiapkan. Mereka tak hentinya mengingatkan Saya untuk lebih berpasrah diri dan tidak ngoyo agar tidak berujung pada rasa frustrasi.

Sesungguhnya…..meskipun kecewa, Saya yakin inilah kehendakNya dan Insya Allah yang terbaik buat Saya. Ngotot kah Saya? Tentu tidak. Saya bersyukur telah menumpahkan segenap usaha yang maksimal sehingga tidak ada penyesalan, apapun hasilnya. Menyerahkah Saya? Tentu tidak. Saya masih akan terus berusaha maksimal mewujudkan resolusi itu hingga suatu titik dimana Saya harus menyerahkan hasil ikhtiar tersebut sepenuhnya pada Allah SWT. Semoga ini tidak diterjemahkan sebagai suatu ambisi yang membabi buta. Semoga Saya selalu diingatkan untuk menjadi manusia yang lebih pandai bersyukur tanpa menjadi orang yang mudah menyerah.

image

This song has stained my mind as Me and Yuza watched it again and again before he slept last night. I must admit that this song was a great choice to accomodate my ears as Bruno mars fans. It also seems to be an effective way to teach english to my little hero. Moreover, the message was fit my current situation, “DONT GIVE UP”.

Edisi inagurasi

“You cannot plough a field by turning it over in your mind”.  ~Author Unknown

Inilah edisi perdana blog ini. Sebenarnya, saya yang sama sekali bukan penulis handal sudah berangan-angan cukup lama untuk latihan menulis lewat blog. Berkenalan dengan Tumblr lewat tulisan-tulisan fun dan inspiratif dari Mbak Tanti lewat rumahliliput@tumblr.com nya, akhirnya saya berbulat tekad untuk mengalahkan rasa tidak percaya diri saya dan memulai dengan posting perdana yang tidak bermutu ini. Intinya, saya punya tekad dan seperti bayi yang sedang belajar berjalan, saya sudah mengambil langkah pertama. Bismillahirahmanirrahim.